Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Obat, Makanan, & Diet’ Category

Apa Itu ‘Asam Urat’?
Billy N. <billy@KonsulSehat.web.id>

Penyakit ‘asam urat’ secara ilmiah biasa disebut ‘gout’ yang termasuk salah satu jenis artritis (radang sendi) yang berarti radang sendi akibat penumpukan kristal garam asam urat di sendi. Asam urat adalah senyawa yang dihasilkan dari metabolisme di dalam tubuh yang asalnya dari purin yang merupakan bagian dari protein. Senyawa ini sebenarnya secara alamiah akan dilarutkan di darah lalu masuk ke ginjal & dibuang melalui air kencing. Pada mereka yang mengalami gout, terjadi peningkatan kadar asam urat di darah (hiperurisemi), lalu asam urat menumpuk di berbagai jaringan tubuh, terutama di sendi & menjadi kristal yang berbentuk tajam yang menyebabkan nyeri & pembengkakan di sendi. Kristal asam urat juga dapat menumpuk di saluran kencing & menyebabkan batu saluran kencing yang bisa menghambat saluran kencing lalu akhirnya bisa kerusakan ginjal. (lebih…)

Read Full Post »

Berobat Tidak Perlu Mahal?
Billy N. <billy@KonsulSehat.web.id>

Ungkapan bahwa ‘sehat itu mahal’ adalah ungkapan yang sejak lama telah ada di masyarakat. Memang secara nyata kesehatan tidak dapat dinilai secara materi, karena tubuh yang sakit selain merugikan akibat kehilangan produktivitas atau mengakibatkan hilangnya banyak materi untuk menjalani pengobatan.
Bagi masyarakat secara umum biaya pengobatan medis saat ini tergolong mahal sehingga banyak orang yang asalnya dianggap mampu secara ekonomi dapat menjadi ‘miskin’ sebab harus membayar biaya pengobatan yang mahal bahkan sering dikatakan tanpa batas. Masyarakat pun karena merasa biaya pengobatan medis mahal lalu mencoba-coba berbagai pengobatan alternatif yang saat ini sangat marak di seluruh penjuru Nusantara. Contohnya adalah fenomena ‘dukun cilik’ Ponari yang ditunggu oleh puluhan ribu orang. Walaupun mayoritas pengobatan alternatif tidak ilmiah & kurang rasional, berbagai pengobatan alternatif terus diburu oleh masyarakat.
Benarkah berobat itu harus selalu mahal? Apakah tidak ada cara lain sehingga untuk kembali menjadi sehat itu tidak perlu biaya mahal yang membebani masyarakat? Pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan pada dasarnya adalah pelayanan & pertolongan profesional yang tidak berkaitan dengan biaya. Besar imbalan yang diberikan pada tenaga kesehatan sebenarnya tidak berkaitan dengan kualitas pelayanan yang diberikan. Dari penelitian di berbagai negara, kaitan antara kualitas pelayanan dengan biaya yang mahal adalah lemah sehingga seharusnya pelayanan kesehatan berkualitas tidak identik dengan biaya mahal.
Negara pun seharusnya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat & berkualitas, sesuai dengan Undang-undang no.29/2004 tentang Praktik Kedokteran. Dalam pasal 49 ayat 1 UU tersebut dikenal istilah ‘kendali mutu & kendali biaya’. Dengan adanya kendali mutu & biaya tersebut pelayanan kesehatan seharusnya menjadi berkualitas dengan biaya serendah mungkin.
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)KonsulSehat

Read Full Post »

Bijak dalam Menggunakan Obat Herbal
Billy N. <billy@konsulsehat.web.id>

Tanaman obat atau obat herbal yang sering disebut sebagai jamu bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Berbagai jenis obat herbal telah dikenal sejak dahulu, menjadi bagian budaya nasional maupun kebanggaan bangsa, & merupakan pengobatan warisan turun-temurun di berbagai suku yang ada di Indonesia. Kadang, beberapa obat herbal memiliki nilai mistik tertentu ditambah berbagai cerita legenda yang menyertainya.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, beberapa jenis obat herbal telah diteliti khasiat & keamanannya, sehingga termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern ataupun diteliti kandungan zat aktifnya untuk dijadikan obat modern. Sebagai contoh, obat Quinine (pil kina) untuk pengobatan infeksi malaria yang berasal dari pohon kina (Cinchona), menjadi salah satu komoditas ekspor utama negeri kita di zaman kolonialisme Belanda.
Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat & Makanan (BPOM) untuk menjaga keamanan masyarakat yang menggunakannya telah memberikan registrasi khusus bagi obat herbal terstandar dengan registrasi TR (tradisional). Berbagai publikasi pun telah diterbitkan sebagai sosialisasi jenis, khasiat, & cara pengolahan berbagai jenis obat herbal asli Indonesia. Obat herbal pada saat ini telah menjadi industri dengan omzet trilyunan rupiah setiap tahunnya, menyerap banyak tenaga kerja & menjadi produk ekspor penghasil devisa.
Dalam era globalisasi, selain jamu, masyarakat pun mulai mengenal berbagai obat herbal dari berbagai negara lain, baik itu yang berasal dari Asia Timur & Selatan, ataupun yang berasal dari negara-negara Barat. Berbagai perusahaan suplemen makanan & multi-level marketing (MLM) kesehatan berskala global ikut mendorong penyebarannya dengan menjual berbagai suplemen makanan dari obat herbal di Indonesia. Obat herbal dari luar negeri sebagian besar masuk/dibuat sebagai suplemen makanan dengan kode MD/ML dari BPOM.
Obat herbal, selain banyak dikenal karena merupakan pengobatan turun-temurun di berbagai suku bangsa, juga banyak disukai karena dianggap lebih aman dari obat-obatan modern yang dianggap berbasis bahan kimia. Klaim ‘tanpa efek samping’ sering disebutkan dalam promosi obat herbal, meskipun sebagian besar klaim tersebut tidak mencantumkan bukti hasil penelitian ilmiah sebagai dasarnya.
Selain itu, muncul pula berbagai klaim bahwa obat herbal efektif untuk pengobatan berbagai penyakit, dari mulai penyakit ringan sampai penyakit yang serius & mematikan seperti hepatitis, kanker, sampai HIV/AIDS. Iklan obat herbal yang mencantumkan klaim pengobatan jika tidak memiliki bukti ilmiah yang mendukungnya adalah suatu hal yang tidak etis & bisa dianggap sebagai penipuan.
Pada tahun 2008, Departemen Kesehatan AS melalui National Center for Complimentary & Alternative Medicine (NCCAM) secara resmi mengeluarkan buku petunjuk obat herbal berjudul ‘Herbs at a Glance’. Dalam buku tersebut dibahas mengenai berbagai obat herbal yang banyak beredar di AS, yang sebagian besar ada & telah dijual pula di Indonesia, misalnya daun lidah buaya, ginseng, bilberry, echinacea, efedra, bawang putih, jahe, ginkgo, teh hijau, noni/mengkudu, kedelai, kurkuma, dst.
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)KonsulSehat

Read Full Post »

‘Mengail di Air Keruh’ Pengobatan Tradisional
Billy N. <billy@hukum-kesehatan.web.id>

Ketika sakit, tentunya semua orang harus berobat agar kembali bisa sehat. Adalah hak setiap orang untuk bebas memilih hendak berobat ke mana, sesuai dengan keinginan & kemampuannya. Sistem kesehatan Indonesia juga mengakomodasi berbagai sistem pengobatan, dari mulai pengobatan dengan ilmu kedokteran modern, pengobatan tradisional, sampai alternatif-komplimentari dari dalam & luar negeri.
Seluruh pengobatan di luar ilmu kedokteran & keperawatan menurut pasal 47 UU no.23/1992 tentang Kesehatan digolongkan sebagai pengobatan tradisional, termasuk pengobatan alternatif-komplimentari yang saat ini banyak pula dijual dengan pola multi-level marketing (MLM).
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Read Full Post »

Mengendalikan Kadar Kolesterol Darah
Billy N. <billy@KonsulSehat.web.id>

Kata ‘kolesterol’ sering diucapkan oleh banyak orang, terutama bagi mereka yang berusia tua. Sebenarnya, apa itu kolesterol? Kolesterol adalah suatu zat yang dibentuk oleh hati (liver) dari lemak jenuh yang berasal dari makanan, & ditambah oleh kolesterol yang memang telah ada di makanan hewani seperti daging, kuning telur, atau produk susu.
Sebenarnya, kolesterol sangat dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan, karena kolesterol adalah bahan pembentuk hormon steroid yang mengatur berbagai metabolisme tubuh, asam empedu, & komponen dari dinding sel di tubuh.
Namun, jika kadar kolesterol di dalam darah terlalu tinggi, akan meningkatkan risiko terkena serangan jantung atau stroke. Ini diakibatkan oleh kelebihan kolesterol yang tidak dibutuhkan tubuh akan disimpan di dinding pembuluh darah yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah, yang biasa disebut arterosklerosis. Jika jumlahnya terlalu banyak, maka pembuluh darah akan tersumbat total sehingga darah tidak dapat mengalir.
Jika kejadian ini terjadi pada pembuluh darah yang mengaliri otot-otot jantung, maka terjadilah serangan jantung. Sedangkan jika hal ini terjadi pada pembuluh darah di otak, maka terjadilah stroke.
Sehingga, untuk mencegah kejadian tersebut, disarankan untuk melakukan pengukuran kadar kolesterol darah secara rutin bagi mereka yang berusia di atas 35 tahun. Pada mereka yang kadar kolesterol darahnya cenderung tinggi beserta faktor risiko lain untuk penyakit jantung & stroke, disarankan untuk melakukan pengukuran lebih sering sesuai petunjuk dokter.
Kolesterol di dalam tubuh sebenarnya terdiri dari berbagai macam, yang merupakan zat gabungan lemak-protein yang disebut lipoprotein. Lipoprotein dengan kepadatan rendah (low density lipoproteins/LDL), berfungsi untuk mengirim kolesterol dari tubuh masuk pembuluh darah. Sementara lipoprotein dengan kerapatan tinggi (high density lipoproteins/HDL) berfungsi untuk menyingkirkan kolesterol dari aliran darah.
Itu sebabnya LDL sering kali disebut ‘kolesterol jahat’ yang jumlahnya tidak boleh terlalu banyak, sementara HDL disebut ‘kolesterol baik’. Selain kedua hal tersebut, dikenal juga LDL yang lebih rendah lagi tingkat kepadatannya yaitu VLDL, & trigliserida yang sering dikenal sebagai ‘lemak netral’ yang merupakan lemak yang paling banyak beredar di pembuluh darah.
Untuk mencapai kadar kolesterol darah yang baik, sehingga tidak menyebabkan peningkatan risiko berbagai penyakit tetapi tetap cukup untuk menjaga berbagai fungsi tubuh, maka dibutuhkan keseimbangan dari berbagai jenis kolesterol yang ada.
Sebagai contoh, jika kadar total kolesterol darah tinggi akibat kadar LDL yang tinggi, maka risiko untuk terkena penyakit jantung atau stroke menjadi tinggi. Sedangkan jika kadar kolesterol darah tinggi akibat kadar HDL yang tinggi, maka risiko untuk terkena penyakit jantung atau stroke tidak tinggi.
Berikut nilai-nilai yang dapat menjadi rujukan dalam penilaian kadar kolesterol darah dalam keadaan puasa (semua ukuran dalam mg/dl):
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)KonsulSehat

Read Full Post »

Makan dengan Rasa Kuatir
Billy N. <billy@suterafoundation.org>

Makanan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang juga merupakan komoditas ekonomi. Pada akhir-akhir ini, masyarakat dibuat cemas oleh munculnya pemberitaan mengenai produk makanan yang tidak layak dikonsumsi atau keamanannya diragukan sehingga berbahaya bagi kesehatan.
Makanan adalah kebutuhan pokok manusia agar tetap bisa bertahan hidup & menjaga kesehatan fisik, bukan membahayakan kesehatannya. Pada masyarakat golongan menengah ke bawah, sebagian besar penghasilannya digunakan untuk membeli makanan.
Dengan besarnya pengeluaran masyarakat untuk membeli makanan, diharapkan produk makanan yang beredar di masyarakat aman untuk dikonsumsi, memiliki kualitas yang baik, & mengandung berbagai zat gizi yang memadai untuk menjaga kesehatan. Sayangnya, belum tentu produk makanan yang ada di pasaran memiliki kualitas yang baik & jaminan bahwa makanan tersebut aman untuk dikonsumsi, meskipun pemerintah melalui Badan POM (Pengawas Obat & Makanan), berbagai departemen terkait, beserta pemerintah daerah memiliki tugas untuk mengawasi kualitas produk makanan yang beredar di masyarakat.
Sebenarnya, usaha perdagangan produk makanan merupakan suatu hal yang potensial & memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga dapat ikut memutar roda perekonomian bangsa. Banyak produk makanan dibuat & dijual oleh sektor informal berskala kecil atau industri rumahan & memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Namun, sangat disayangkan, saat ini banyak produsen & penjual makanan yang tidak memperhatikan keamanan produknya demi meraup keuntungan yang lebih besar. Sebagai contoh, saat ini banyak makanan yang mengandung bahan-bahan berbahaya. Dimulai dari bahan yang terlarang digunakan dalam makanan, seperti pewarna tekstil rodamin, pengawet boraks & formalin. Lalu pemanis buatan atau bahan pengawet yang konsentrasinya dalam produk melebihi ambang batas aman.
Pemakaian bahan-bahan tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau berlebihan jumlahnya karena dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit, seperti nyeri perut, mual-muntah, nyeri kepala, gangguan sistem syaraf, gangguan sirkulasi jantung/darah, kejang, sulit buang air kecil, muntah darah, kerusakan ginjal, kanker, bahkan kematian.
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Read Full Post »

Pengobatan Alternatif yang Bukan Alternatif Pengobatan
Billy N. <billy@suterafoundation.org>

Kesehatan adalah hak semua orang, karena tanpa kesehatan manusia tidak dapat beraktivitas dengan normal, bahkan ada kata-kata bijak bahwa kekayaan tidak berarti tanpa kesehatan. Sehat menurut definisi World Health Organization (WHO) adalah suatu keadaan sehat fisik, jiwa, sosial, & bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, & kelemahan/penderitaan. Untuk tetap sehat, masyarakat melakukan berbagai upaya untuk menjaga & meningkatkan kesehatannya. Sementara jika sakit, maka berbagai upaya pengobatan & perbaikan kondisi dilakukan untuk kembali sehat. Semua usaha untuk mencapai kesehatan tersebut, selain dilakukan oleh pribadi, dilakukan pula oleh pemerintah maupun lembaga swasta.
Usaha pelayanan kesehatan terdiri dari berbagai jenis, dari mulai yang ilmiah melalui pengobatan kedokteran modern, maupun pengobatan alternatif (PA) yang bersumber dari berbagai latar belakang, seperti tradisional, keagamaan, kepercayaan, atau teknologi yang belum terbukti secara ilmiah, dengan berbagai teknik & perangkat pengobatan.
Melalui penelitian, banyak jenis pengobatan yang tadinya merupakan PA telah berubah menjadi pengobatan kedokteran modern yang ilmiah, misalnya pada beberapa obat tradisional dari bahan-bahan alam yang lebih dikenal dengan sebutan jamu di Indonesia.
Namun, masih banyak PA lain yang belum memiliki dasar ilmiah, sehingga sulit untuk menentukan parameter yang obyektif dalam penilaiannya. Sehingga, berbagai PA lebih bersifat kepercayaan/sugesti dari penggunanya sedangkan seharusnya, pengobatan yang diizinkan digunakan di masyarakat telah melalui serangkaian penelitian/pengujian & perhitungan statistik sampai dianggap layak untuk digunakan. Peralatan pengobatan canggih pun tetap dianggap PA jika belum melalui proses tersebut.
Pada pengobatan kedokteran modern, telah dilakukan pengaturan, standarisasi, & pengawasan oleh pemerintah melalui berbagai peraturan perundangan. Sedangkan pada PA, belum banyak pengaturan & standarisasi yang diatur dalam peraturan perundangan, sementara pengawasan yang dilakukan hanya berupa pendaftaran saja oleh pemerintah daerah.
Dengan pengaturan, standarisasi, & pengawasan dari pemerintah saja, tetap ada sarana pengobatan kedokteran modern yang menyimpang dari yang seharusnya, sehingga menjadi masalah hukum. Pada PA, dengan tiadanya pengaturan, standarisasi, & pengawasan yang memadai dari pemerintah, menyebabkan tiadanya perlindungan hukum yang memadai bagi para penggunanya jika terdapat penyimpangan.
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Read Full Post »

Older Posts »