Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘ARTIKEL’ Category

Makan dengan Rasa Kuatir
Billy N. <billy@suterafoundation.org>

Makanan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang juga merupakan komoditas ekonomi. Pada akhir-akhir ini, masyarakat dibuat cemas oleh munculnya pemberitaan mengenai produk makanan yang tidak layak dikonsumsi atau keamanannya diragukan sehingga berbahaya bagi kesehatan.
Makanan adalah kebutuhan pokok manusia agar tetap bisa bertahan hidup & menjaga kesehatan fisik, bukan membahayakan kesehatannya. Pada masyarakat golongan menengah ke bawah, sebagian besar penghasilannya digunakan untuk membeli makanan.
Dengan besarnya pengeluaran masyarakat untuk membeli makanan, diharapkan produk makanan yang beredar di masyarakat aman untuk dikonsumsi, memiliki kualitas yang baik, & mengandung berbagai zat gizi yang memadai untuk menjaga kesehatan. Sayangnya, belum tentu produk makanan yang ada di pasaran memiliki kualitas yang baik & jaminan bahwa makanan tersebut aman untuk dikonsumsi, meskipun pemerintah melalui Badan POM (Pengawas Obat & Makanan), berbagai departemen terkait, beserta pemerintah daerah memiliki tugas untuk mengawasi kualitas produk makanan yang beredar di masyarakat.
Sebenarnya, usaha perdagangan produk makanan merupakan suatu hal yang potensial & memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga dapat ikut memutar roda perekonomian bangsa. Banyak produk makanan dibuat & dijual oleh sektor informal berskala kecil atau industri rumahan & memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Namun, sangat disayangkan, saat ini banyak produsen & penjual makanan yang tidak memperhatikan keamanan produknya demi meraup keuntungan yang lebih besar. Sebagai contoh, saat ini banyak makanan yang mengandung bahan-bahan berbahaya. Dimulai dari bahan yang terlarang digunakan dalam makanan, seperti pewarna tekstil rodamin, pengawet boraks & formalin. Lalu pemanis buatan atau bahan pengawet yang konsentrasinya dalam produk melebihi ambang batas aman.
Pemakaian bahan-bahan tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau berlebihan jumlahnya karena dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit, seperti nyeri perut, mual-muntah, nyeri kepala, gangguan sistem syaraf, gangguan sirkulasi jantung/darah, kejang, sulit buang air kecil, muntah darah, kerusakan ginjal, kanker, bahkan kematian.
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Iklan

Read Full Post »

Pengobatan Alternatif yang Bukan Alternatif Pengobatan
Billy N. <billy@suterafoundation.org>

Kesehatan adalah hak semua orang, karena tanpa kesehatan manusia tidak dapat beraktivitas dengan normal, bahkan ada kata-kata bijak bahwa kekayaan tidak berarti tanpa kesehatan. Sehat menurut definisi World Health Organization (WHO) adalah suatu keadaan sehat fisik, jiwa, sosial, & bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, & kelemahan/penderitaan. Untuk tetap sehat, masyarakat melakukan berbagai upaya untuk menjaga & meningkatkan kesehatannya. Sementara jika sakit, maka berbagai upaya pengobatan & perbaikan kondisi dilakukan untuk kembali sehat. Semua usaha untuk mencapai kesehatan tersebut, selain dilakukan oleh pribadi, dilakukan pula oleh pemerintah maupun lembaga swasta.
Usaha pelayanan kesehatan terdiri dari berbagai jenis, dari mulai yang ilmiah melalui pengobatan kedokteran modern, maupun pengobatan alternatif (PA) yang bersumber dari berbagai latar belakang, seperti tradisional, keagamaan, kepercayaan, atau teknologi yang belum terbukti secara ilmiah, dengan berbagai teknik & perangkat pengobatan.
Melalui penelitian, banyak jenis pengobatan yang tadinya merupakan PA telah berubah menjadi pengobatan kedokteran modern yang ilmiah, misalnya pada beberapa obat tradisional dari bahan-bahan alam yang lebih dikenal dengan sebutan jamu di Indonesia.
Namun, masih banyak PA lain yang belum memiliki dasar ilmiah, sehingga sulit untuk menentukan parameter yang obyektif dalam penilaiannya. Sehingga, berbagai PA lebih bersifat kepercayaan/sugesti dari penggunanya sedangkan seharusnya, pengobatan yang diizinkan digunakan di masyarakat telah melalui serangkaian penelitian/pengujian & perhitungan statistik sampai dianggap layak untuk digunakan. Peralatan pengobatan canggih pun tetap dianggap PA jika belum melalui proses tersebut.
Pada pengobatan kedokteran modern, telah dilakukan pengaturan, standarisasi, & pengawasan oleh pemerintah melalui berbagai peraturan perundangan. Sedangkan pada PA, belum banyak pengaturan & standarisasi yang diatur dalam peraturan perundangan, sementara pengawasan yang dilakukan hanya berupa pendaftaran saja oleh pemerintah daerah.
Dengan pengaturan, standarisasi, & pengawasan dari pemerintah saja, tetap ada sarana pengobatan kedokteran modern yang menyimpang dari yang seharusnya, sehingga menjadi masalah hukum. Pada PA, dengan tiadanya pengaturan, standarisasi, & pengawasan yang memadai dari pemerintah, menyebabkan tiadanya perlindungan hukum yang memadai bagi para penggunanya jika terdapat penyimpangan.
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Read Full Post »

Keseimbangan Air di dalam Tubuh
Billy N. <billy@KonsulSehat.web.id>

Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air & seluruh bagian tubuhnya selalu membutuhkan air, termasuk saat tidur. Pada manusia dewasa, sekitar separuh sampai dua per tiga tubuhnya terdiri dari air. Pada lansia & mereka yang kegemukan, persentase cairan tubuhnya lebih rendah. Sedangkan perempuan memiliki jaringan lemak yang lebih banyak dari lelaki, sehingga persentase cairan tubuhnya lebih rendah dari lelaki. Pada bayi & anak, persentase cairan tubuhnya lebih tinggi dari dewasa.
Di tubuh kita, air terus berpindah dari satu bagian ke bagian tubuh yang lain sesuai kebutuhan untuk menjaga keseimbangan cairan, agar tubuh dapat berfungsi secara normal. Konsumsi air harus seimbang dengan cairan tubuh yang hilang melalui kencing, keringat, buang air besar, & pernafasan.
Kebutuhan air setiap orang tidaklah sama. Secara rata-rata, pada seorang lelaki dewasa dengan berat badan 50 kg dengan aktivitas fisik sedang, dibutuhkan asupan air sebanyak kurang lebih 2 liter setiap harinya. Kebutuhan air akan meningkat pada mereka yang memiliki aktivitas fisik lebih tinggi, bekerja/tidur di ruangan yang kelembabannya rendah (contoh ruangan ber-AC), suhu panas, atau di bawah terik matahari. Semakin tinggi berat badan, semakin tinggi pula kebutuhan airnya. Pada mereka yang mengalami demam, kebutuhan air juga meningkat.
Biasanya, seseorang dapat meminum air dalam jumlah yang mencukupi untuk mengimbangi hilangnya air. Namun pada keadaan-keadaan tertentu, seseorang tidak dapat minum dalam jumlah cukup, seperti pada keadaan diare berat atau muntah dalam waktu lama, sehingga terjadi kekurangan air.
Prinsip utama dalam asupan air adalah lebih baik minum air sedikit lebih banyak dari yang dibutuhkan, dibandingkan dengan minum air lebih sedikit dari kebutuhan. Karena pada tubuh yang normal, kelebihan air dengan mudah akan dibuang namun tidak sebaliknya.
Di dalam tubuh, air diserap di dalam saluran cerna & masuk ke dalam darah. Pengeluaran cairan tubuh beserta sampah metabolisme utamanya dilakukan melalui ginjal dalam bentuk air seni.
Air minum yang baik mengandung garam mineral seperti Natrium & Kalium yang biasa disebut elektrolit. Di dalam tubuh, keseimbangan air terkait erat dengan keseimbangan elektrolit. Tubuh berusaha menjaga keseimbangan jumlah air & tingkat elektrolit dalam aliran darah tetap stabil.
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)KonsulSehat.web.id

Read Full Post »

Kelestarian Lingkungan untuk Manusia yang Sehat
Billy N. <billy@KonsulSehat.web.id>

Manusia ada di tengah-tengah lingkungan, menjadi bagian dari lingkungan, & tentunya tidak dapat hidup tanpa adanya lingkungan. Udara, air, tanah, tumbuhan, & hewan yang merupakan komponen dari lingkunganlah yang memberi hidup pada fisik manusia. Karena kaitan manusia dengan lingkungan sangat erat, maka keadaan kesehatan dari manusia pun sangat tergantung dari kondisi lingkungan tempatnya hidup. Lingkungan adalah salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi kesehatan dari manusia. Sekitar sepertiga dari penyakit yang menimpa manusia berkaitan dengan faktor lingkungan.
Akibat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pencemaran lingkungan buatan manusia, banyak penyakit yang berkaitan dengan lingkungan mengalami peningkatan jumlah penderita. Dari mulai berbagai penyakit infeksi, seperti demam berdarah, tifoid, malaria, lalu penyakit saluran pernafasan seperti asthma, sampai penyakit kanker.

Pencemaran Air
Industrialisasi yang semakin meningkat ditambah terus bertambahnya penduduk, membuat kebutuhan akan air terus bertambah & pencemaran terhadap air juga meningkat. Berbagai pencemaran membuat air menjadi tidak dapat digunakan oleh manusia & merusak lingkungan. Semakin hari, masyarakat semakin sulit mendapatkan air yang layak digunakan, sehingga masyarakat terpaksa menggunakan air yang tidak terjamin keamanannya.
… baca kelanjutan tulisan ini di www.konsulsehat.web.id
(c)KonsulSehat.web.id

Read Full Post »

Penyakit Kencing Manis (Diabetes Melitus)
Billy N. <billy@konsulsehat.web.id>

Salah satu penyakit menahun yang sering diderita oleh masyarakat adalah penyakit kencing manis, sehingga sering disebutkan oleh banyak orang. Penyakit ini sepertinya menakutkan, karena sepertinya kematian ataupun kehilangan anggota tubuh yang membusuk menjadi ancamannya. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan penyakit kencing manis? Apa mungkin bisa hidup sehat meskipun terkena penyakit ini?
Penyakit kencing manis atau diabetes melitus adalah suatu penyakit menahun akibat tubuh yang tidak dapat menghasilkan hormon insulin atau tubuh tetap menghasilkan insulin tetapi terjadi masalah sehingga tidak dapat digunakan dengan tepat. Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh organ pankreas yang ada di perut, yang berfungsi untuk menyalurkan glukosa (gula) ke dalam sel di seluruh tubuh untuk digunakan sebagai sumber tenaga.
Pada penyakit kencing manis terjadi penumpukan gula di darah dari pada masuk ke dalam sel untuk menjadi energi. Kadang kelebihan gula di dalam darah tersebut dibuang melalui kencing, sehingga air kencing menjadi ‘manis’.
Penyakit kencing manis tidak dapat diobati sehingga sembuh, namun penyakit ini dapat dikelola sehingga penderitanya tetap dapat hidup sehat secara normal. Hal terpenting dalam pengelolaan penyakit ini adalah pengaturan kadar gula darah dengan cara pengaturan makan, olahraga, menjaga berat badan, & jika diperlukan menggunakan obat-obatan atau penyuntikan insulin.
… Baca kelanjutan tulisan ini di http://KonsulSehat.web.id
(c)KonsulSehat.web.id

Read Full Post »

Sediaan Obat Puyer & Kontroversinya
Billy N. <billy@suterafoundation.org>

Beberapa waktu terakhir ini, perdebatan mengenai penggunaan sediaan obat puyer mengemuka di internet dalam berbagai forum diskusi (e-mailing list). Banyak pihak yang merasa kaget & menentang penggunaan sediaan obat puyer, terutama dari kalangan orangtua. Tetapi, banyak pula yang tetap mendukung penggunaan sediaan obat puyer, sebagian besar dari kalangan profesi dokter.
Masing-masing pihak yang setuju & menentang memiliki argumentasinya. Dari pihak yang menentang, dikemukakan alasan bahwa sediaan obat seharusnya hanya dibuat di pabrik yang memiliki standar cara pembuatan obat yang baik (CPOB) & memiliki nomor register dari pemerintah, bukan dibuat/diracik di apotek atau tempat praktik dokter yang mungkin kurang memenuhi standar kebersihan, ketepatan takaran, juga tidak didaftarkan ke pemerintah.
Isi sediaan obat puyer pun biasanya sulit diketahui dengan mudah oleh orang lain karena ketiadaan label, sehingga jika terjadi masalah (alergi, efek samping, keracunan, atau interaksi), sulit untuk mengetahui zat aktif obat mana yang menyebabkannya.
Selain itu, berbagai obat tidak dibuat untuk dihancurkan dalam bentuk puyer, misalnya sediaan lepas lambat atau dengan teknik pelapisan (coated) sehingga dapat ‘pecah’ di bagian saluran cerna tertentu atau mencegah kerusakan, yang jika dihaluskan/dihancurkan untuk dibuat puyer dapat mengganggu kesehatan penggunanya ataupun kurang efektif karena sudah rusak terlebih dahulu. Sebagian sediaan obat puyer yang merupakan campuran dari berbagai obat juga dapat membahayakan penggunanya jika dokter & apoteker yang meresepkan/meracik kurang memperhatikan mengenai interaksi di antara zat aktif obat-obat tersebut.
Dari kalangan yang mendukung penggunaan sediaan obat puyer, menganggap bahwa apoteker & dokter sesuai peraturan yang ada berhak meracik & membuat sediaan obat. Selain itu, sediaan obat puyer relatif mudah untuk disiapkan & dapat disesuaikan takarannya dengan kebutuhan pasien, sementara sediaan obat jadi dari pabrik obat memiliki takaran yang standar & kadang kurang sesuai dengan kebutuhan pasien khusus, seperti pasien anak yang harus disesuaikan dengan berat badan. Sehingga, sediaan obat puyer sangat sering digunakan dalam pengobatan anak.
Dari pemerintah sendiri, belum ada kebijakan khusus yang dikeluarkan untuk menyikapi masalah ini. Selain mungkin hal ini belum menjadi kontroversi secara nasional, mungkin pemerintah sendiri kebingungan karena kedua pihak yang mendukung & menentang sediaan obat puyer masing-masing memiliki argumen & dasar hukumnya.
Puyer (powder) atau pulvis adalah salah satu bentuk sediaan obat yang biasanya didapat dengan menghaluskan atau menghancurkan sediaan obat tablet/kaplet & biasanya terdiri dari sedikitnya 2 macam obat.
… Baca kelanjutan tulisan ini di http://KonsulSehat.web.id
(c)KonsulSehat.web.id

Read Full Post »

Tetap Sehat Bekerja di Malam Hari
Billy N. <billy@KonsulSehat.web.id>

Karena tuntutan persaingan usaha ataupun tuntutan kerja, banyak orang sekarang harus bekerja di malam hari dalam berbagai profesi. Dari mulai tenaga keamanan, petugas kesehatan, sampai pedagang. Baik itu seluruh waktu kerja selalu dilakukan di malam hari atau kadang mendapat giliran kerja malam. Kerja di malam hari, memiliki banyak perbedaan dengan kerja di siang hari. Tubuh kurang dapat menyesuaikan dengan kerja malam & tidur di siang hari.
Salah satu contohnya adalah rasa lelah pada kerja di malam hari relatif lebih besar dari kerja di siang hari. Istirahat/tidur di siang hari tidak bisa sama berkualitas dengan tidur di malam hari karena banyaknya gangguan di siang hari. Bekerja di malam hari juga meningkatkan risiko penurunan daya tahan tubuh, tekanan darah tinggi, kegemukan, tukak lambung, & gangguan jantung. Selain itu, saluran cerna bekerja kurang efisien jika banyak makan di malam hari yang sering dilakukan oleh mereka yang bekerja di malam hari.
Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai usaha agar tubuh tetap sehat yang juga mencegah kecelakaan selama & sesudah kerja bagi mereka yang bekerja di malam hari atau sering mendapat giliran kerja malam, yaitu:
– Makan malam sebelum jam 7 malam atau 2 jam sebelum mulai giliran kerja
– Mengurangi mengudap/mengemil selama kerja
– Jika merasa lapar saat bekerja, makanlah saat waktu istirahat & dalam jumlah sedikit
– Makan & minum setiap hari tetap harus bervariasi, lengkap zat gizi & serat, juga seimbang jumlahnya
– Berolahraga secara rutin 2-3 kali dalam sepekan
– Cukup minum selama bekerja.
… Baca kelanjutan tulisan ini di http://KonsulSehat.web.id
(c)KonsulSehat.web.id

Read Full Post »

Mengurangi Keluhan Fisik Akibat Penggunaan Komputer
Billy N. <billy@konsulsehat.web.id>

Manusia semakin mudah dalam hidup dengan adanya hasil kemajuan teknologi. Salah satu hasil kemajuan teknologi tersebut adalah komputer. Dengan semakin mudah untuk melakukan banyak hal menggunakan komputer, maka banyak orang melakukan pekerjaannya di depan komputer selama periode yang lama. Pada awalnya, hal ini tidak menimbulkan keluhan berarti, namun setelah semakin lama & semakin banyak orang yang bekerja dengan komputer, semakin banyak problem kesehatan yang muncul.
Ada banyak keluhan subyektif yang didapat oleh para pengguna komputer, secara umum keluhan mereka mengalami nyeri leher, nyeri pinggang, sakit mata, pusing, susah kencing, nyeri daerah lengan, pegal kaki, kesemutan, bahkan tekanan mental.
Keluhan-keluhan seperti ini sering diabaikan, namun jika terus dirasakan, dapat mengganggu & mengurangi produktivitas kerja. Fenomena keluhan-keluhan subyektif ini dapat disebut cedera akibat tekanan kerja terus menerus. Keluhan-keluhan seperti ini sedikit yang dilaporkan, namun sangat banyak dialami oleh para pekerja yang menggunakan komputer.
Berbagai hal dapat dilakukan untuk mengurangi keluhan, seperti penggunaan obat pengurang rasa nyeri sampai perbaikan-perbaikan posisi, sarana, & cara kerja sehingga keluhan dapat dikurangi atau dicegah. Namun, manusia bukanlah robot yang dapat terus bekerja dalam waktu lama, meskipun lingkungan kerjanya lebih nyaman.
Penggunaan obat pengurang rasa nyeri juga tidak menghilangkan masalah, tetapi hanya mengurangi gejala, & bahkan cenderung berbahaya jika digunakan dalam waktu lama. Selain itu, hampir seluruh perangkat komputer, dirancang untuk orang-orang di ‘dunia barat’ yang memiliki postur tubuh berbeda dari kebanyakan orang Indonesia.
Hal ini juga diperparah oleh kurang pedulinya orang-orang yang bekerja dengan komputer. Bila keadaan terus-menerus seperti ini, akan mengakibatkan banyak jam kerja akan hilang, keuntungan perusahaan akan berkurang & biaya pengobatan akan bertambah.
Operator komputer bekerja selama berjam-jam dengan sikap duduk yang statis, dengan gerakan tangan yang berulang-ulang. Dengan keadaan itu saja, operator komputer meja memiliki risiko yang cukup tinggi untuk mendapat cedera yang bersifat kumulatif pada otot.
… Baca kelanjutan tulisan ini di http://KonsulSehat.web.id
(c)KonsulSehat.web.id

Read Full Post »

Penggunaan Obat yang Kurang Rasional
Billy N. <billy@hukum-kesehatan.web.id>

Hidup sehat sebagai Hak Azasi Manusia harus diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan kesehatan termasuk pemberian obat-obatan yang rasional.
Pemberian obat-obatan yang rasional merupakan inti dari berbagai kegiatan dalam penyelengaraan upaya kesehatan yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki etika & moral yang tinggi, dengan keahlian yang secara terus menerus harus ditingkatkan mutunya.
Namun, pada kenyataannya dilapangan pemakaian obat yang kurang rasional masih sering atau banyak dijumpai dalam pelayanan kesehatan sehari-hari, mulai dari praktik dokter, balai pengobatan, puskesmas, sampai di rumah sakit.
Yang digolongkan pemakaian obat yang kurang rasional antara lain adalah pemakaian obat secara berlebihan baik dalam jenis maupun jumlah dosis, indikasi pemberian obat yang tidak jelas, tatacara pemakaian atau penggunaan yang tidak tepat, kombinasi berbagai obat yang berisiko tinggi, penggunaan obat mahal sementara masih banyak obat sejenis yang lebih murah, & penggunaan jenis obat suntik & infus yang tidak perlu.
Jika diperhatikan, tujuan pengobatan bahwa secara umum adalah untuk pengobatan tanpa meninggalkan efek samping obat ataupun dengan efek samping seminimal mungkin, serta harga obat yang terjangkau & mudah didapatkan masyarakat.
Dalam keseharian yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, maka tujuan pengobatan sering tidak tercapai. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemberian obat kurang rasional antara lain:
– Kurangnya pengetahuan dari tenaga kesehatan dalam ilmu obat-obatan.
– Adanya kebiasaan meresepkan jenis atau merk obat tertentu.
– Kepercayaan masyarakat terhadap jenis atau merk obat tertentu.
– Keinginan pasien yang cenderung ingin mengkonsumsi obat tertentu, dengan sugesti menjadi lebih cepat sembuh.
– Adanya sponsor dari industri farmasi obat tertentu.
– Pemberian obat berdasarkan adanya hubungan baik perorangan dengan pihak dari industri farmasi.
– Adanya keharusan dari atasan di dalam suatu instansi atau lembaga kesehatan untuk meresepkan jenis obat tertentu.
– Informasi yang tidak tepat atau bias, sehingga pemakaian obat menjadi tidak tepat.
– Beban pekerjaan yang terlalu berat sehingga tenaga kesehatan menjadi tidak sempat untuk berpikir soal rasionalitas pemakaian obat.
– Adanya keterbatasan penyediaan jenis obat di suatu instansi atau lembaga kesehatan tertentu, sehingga jenis obat yang diperlukan untuk suatu penyakit justru tidak tersedia, sehingga memakai obat yang lain.
… Baca kelanjutan tulisan ini di http://KonsulSehat.web.id
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Read Full Post »

Informasi Kesehatan di Internet: Bohong atau Bisa Dipercaya?
Billy N. <billy@informatika-kesehatan.web.id>

Dalam beberapa tahun terakhir ini, internet terus berkembang yang telah mengubah kehidupan banyak orang, termasuk dalam kebiasaan mencari & mendapatkan informasi, baik melalui e-mail, mailing list (milis), newsgroup, blog, atau situs web.
Selain informasi-informasi yang baik, sangat disayangkan internet juga telah digunakan sekelompok orang untuk menyebarkan informasi yang kurang tepat, menyesatkan, atau merupakan kebohongan (hoax), termasuk informasi dalam bidang kesehatan.
Informasi kesehatan yang berisi kurang tepat tersebut ada yang berbentuk promosi, pengumuman, atau sesuatu hal yang menimbulkan ketakutan bagi pembacanya, yang beredar/diteruskan dari e-mail ke e-mail, ke milis, atau dimuat di blog seseorang.
Bahkan, informasi kesehatan yang berisi kebohongan tersebut dibuat seolah-olah ‘terpercaya’, sehingga beberapa waktu lalu ada salah satu surat kabar regional terbesar di Indonesia menggunakan informasi bohong mengenai mi instan yang dilapisi lilin, yang telah beberapa tahun beredar di berbagai milis, untuk sumber penulisan berita.
Hal ini menimbulkan kegelisahan dari banyak pengguna internet, karena mereka menjadi bingung bahkan sampai paranoid setiap kali menerima informasi kesehatan dari internet, apakah informasi ini dapat dipercaya atau hanya kebohongan belaka? Misalnya, apakah betul minum air dingin setelah makan akan menyebabkan serangan jantung atau kanker? Apakah kafein dapat menyebabkan gagal ginjal? Dst.
Sebenarnya, internet tetap dapat menjadi ‘gudang’ informasi yang baik untuk belajar mengenai berbagai macam hal, termasuk kesehatan. Tetapi, jangan mudah percaya semua informasi kesehatan yang Anda baca/dengar/lihat.
Banyak mitos/rumor atau informasi kesehatan bohong yang disusupkan ke informasi kesehatan yang mengandung fakta, bahkan kebohongan dibuat seolah-olah adalah informasi terpercaya, untuk berbagai macam tujuan, seperti menakut-nakuti atau untuk promosi produk, tanpa ada dasar ilmiah yang jelas. Hal ini berlaku bukan hanya di internet, tetapi juga untuk informasi yang beredar di masyarakat melalui surat kabar, majalah, radio, televisi, brosur, buku-buku kesehatan populer, dst.
… Baca kelanjutan tulisan ini di http://KonsulSehat.web.id
(c)KonsulSehat.web.id

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »